ukhwah syabab

Monday, September 10, 2012

Cerpen Syabab 1 : “Bermimpilah! Memeluk Bulan Sekalipun”

“Kapan tiba masanya bisa aku jadi kuat seperti mujahidin-mujahidin di medan tempur al-Badr?
Kapan tiba masanya bisa aku menjadi hafiz seperti mereka-mereka yang langsung menjadi para penghafaz al-quran?
Kapan tiba masanya bisa aku menjadi seorang da’ie yang mampu berdakwah sehebat Rasul kesayanganku Nabi Muhammad S.A.W? “
Dan banyak lagi persoalan yang terus-menerus bermain di akal pemikiranku.Sejujurnya aku cemburu sama teman-teman yang bisa menghafaz al quran dan hadith, bisa menjadi seorang pendakwah yang hebat dalam usia muda dan bisa membuatkan rinduku pada ya Rasulullah makin utuh. Karena apa? Karenanya aku teringin bangat menyumbang sesuatu terhadap agamaku. Sesuatu yang mampu memberi manafaat pada saudara-saudaraku. Setiap hari aku berjihad dengan melawan nafsu ku sendiri. Sehinggakan timbul persoalan,
“wahai Imran, sampai kapan kau mahu melawan nafsu mu sahaja? Bagaimana saudara-saudara islam mu di luar sana? Mereka pon butuhkan bantuan kau? Jangan sampai pabila masanya hari akhirat kau akan dipersoal akan jasa apa yang telah kau beri pada saudara-saudara islam mu? ”
Monolog aku sambil merenung jauh…
Itulah Imran seorang anak muda yang masih bertatih mengenal Islam, bukan karena dia seorang muallaf tetapi karena dahulunya dia seorang yang sering berlaku khilaf. Ya pada usia mudanya banyak dihabiskan dengan berfoya-foya, terlalu banyak keaiban yang dilakukan di atas muka bumi Allah sehinggakan dia merasakan begitu hina. Perasaan itulah yang membuatkan Imran acapkali berhenti daripada lamunan untuk menjadi seorang pendakwah. Dia terasa begitu hina sehinggakan malu jika keaibannya di sebarkan akan membuatkan “Islam” yang cuba disampaikan mendapat kritikan keras daripada teman-temannya.
Dia sentiasa bersangka bahawa mana mungkin persekitarannya mahu menerima orang-orang sepertinya. Ya mungkin mereka menerima perubahan Imran daripada kurang baik kepada baik tetapi mana mungkin keaibannya akan di simpan terus. Pasti ada aja yang mahu menyebarkan keaibannya. Itulah sangka buruk yang terus-terusan bermain di minda Imran apabila ingin menyebarkan dakwah pada orang lain.
Sebelum ini, Imran pernah juga coba menjadi seorang tahfiz, perlahan-lahan dia bertatih menghafaz al-quran tetapi setiap kali dia menghafaz, dia langsung menangis di depan al-quran karenanya dia tidak mampu untuk menghafaz al-quran. Dia teringin untuk berguru namun apakan daya kerjayanya sebagai seorang mahasiswa seperti tidak mengizinkannya karenanya masanya sibuk terus dengan urusan-urusan di kampus.

“Ya Allah, bantulah aku bimbinglah aku karena lemahnya aku ini karena nafsu dan sifat malas, aku ingin menjadi hambaMu yang memperoleh keredhaanMu, makanya bimbinglah aku agar aku bisa mencapai impian ku itu”

Itulah doa yang selalu di mohon oleh Imran setiap kali menunaikan solat sunat di sepertiga malam. Setiap hari dia berjuang dengan rutin harian melawan nafsunya.
 Suatu hari, sedang dia berdoa sehinggakan berkaca matanya, datang seorang hamba Allah kepadanya.
“wahai saudaraku yang dirahmati Allah, mengapa kau langsung menangis? Coba kau ceritakan padaku, insya Allah selagi mampu aku coba bantu” kata hamba Allah itu.
Makanya berceritalah Imran terhadap kerisauan yang melanda dirinya.
“Aku sentiasa menangis melihat hamba Allah seperti engkau saudaraku yang dirahmati Allah, insan yang berjubah putih, berserban, yang dibibirnya mudah bicara ayat-ayat al quran, punya akal fikiran yang cerdik sehingga bisa khatam menghafaz al quran, bisa menjadi seorang da’ie yang hebat dan tinggi ilmu nya sehinggakan membuatkan aku terasa begitu rendah di samping kalian, aku teringin menjadi seperti kalian.” Luah hati Imran kepada hamba Allah tersebut.
Hamba Allah itu terus senyum dan menyapu air mata Imran yang membasahi pipinya dengan hujung kain serbannya yang panjang, lantas berkata
“Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya…”
surah al-Baqarah ayat 286
“... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(al-Baqarah: 216)
“wahai sahabatku yang dirahmati Allah tanpa  kau sadari kau sedang menjadi sekuat mujahidin di medan perang al badr, yang sedang bertatih menjadi seorang tahfiz dan sedang berusaha menjadi seorang pendakwah”
Imran terus terpana, terkejut karena dia merasa pelik karenanya dia tidak sedar pun perkara tersebut. Lantas bertanya,
“apa maksud saudara?”
Hamba Allah itu senyum lalu berkata lagi,
“bukankah segala yang kau bilang itu adalah harapan? Harapan untuk menjadi sekuat mujahidin di medan al badr, harapan untuk menjadi seorang tahfiz dan harapan untuk menjadi seorang pendakwah, segala-galanya bermula dengan sebuah mimpi wahai temanku, karena daripada mimpi itulah kita cuba merungkai untuk menjadikannya sebuah realiti. Lihatlah kau hari ini engkau sedar akan segala mimpi itu, bukankah itu bermakna engkau sedang berusaha untuk merealisasikan mimpi tersebut? Untuk menggapai bintang di langit bukan hanya dengan imaginasi namun dengan imaginasilah kita akan membina sebuah perjalanan agar misi untuk menggapai bintang di langit itu menjadi nyata, sama jugalah dengan harapan saudara imran, biarlah segalanya bermula dengan mimpi tetapi mimpi yang ada tujuan makanya jangan pernah putus asa, teruskan merealisasikan impian itu, nescaya engkau akan memperoleh keredhaan Allah yang kau cari”
Imran terus tersenyum, namun timbul kehairanan kerana hamba Allah itu mengetahui terperinci segala impiannya dan lagian aneh hamba Allah itu bisa ketahuan namanya Imran.
Belum sempat Imran menoleh, hamba Allah itu telah hilang. Imran terus berlari mencari di mana hamba Allah itu di sekitar masjid namun tidak ditemui.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
“Allahhu akbar… Allahhu akbar…”
Telah masuknya waktu solat fardhu Zohor….
Terbangun Imran setelah berqailullah, tanpa dia sadari dia sedang bermimpi rupanya.
“masya Allah, mimpi kah tadi?terasa begitu ‘real’sekali”
Sambil tersenyum dia mengucapkan Alhamdulillah…
Dia sedar mimpi itu bukan sekadar mimpi tetapi itulah petunjuk untuk dia teruskan usaha merealisasikan segala mimpi itu..
Karena mimpi itulah titik pemangkin perjalanannya untuk terus hidup terus yakin untuk mencari redha Allah. Allahhu Akbar!!!

====================================

assalamualaikum syabeebs
lama xonline sbb malas nk update..hehe
tolong komen ini karya pertama syabab... pape kritikan amat2 di alau2kan.. ade pape cdgn pon roger2 la...ngh cr idea ni nk wat cerpen ato novel..hehe

8 comments:

Muhammad Saiazuan Norhalik said...

suatu kisah yang sungguh berinspirasi.. good work syabab :)

syabab said...

alhamdulillah thx zuan...hehe (^_^)Y

Ri said...

karya pertama? fairly good effort :)

Edy Fee said...

mana dapat cerita2 tauladan mcm ni...bagusnya...
susah nak beair mata sebab keihlasan...yang betul2 ikhlas je dpt buat

--- lama juga tak singgah sini ka.busy

syabab said...

ri> thx bro...huhu

edy> bukan dptlah..ni reka sendiri... kononnya nak try lah jadi penulis...hehe amcm oke x?hehe

Asrul "iLham" Sany said...

genre budaya dan agama ni menarik... sesuai untuk fiksyen terbitan

cuba ingin tahu, kenapa diselitkan dengan dialek Indonesia?

lagi satu kalau mahu hantar untuk penerbitan, kena jaga-jaga dari segi ejaan ya.

- Perkongsian aku sebagai penulis. hahaha...

- teruskan menulis dan kalau serius dalam genre seperti ini kau boleh pergi jauh berbanding fiksyen pop :D

syabab said...

thx Ais for the feedback..
-ehmm suka guna bahasa nusantara yg hakikatnya antara gaya bahasa dalam melayu
-hehe...ejaan?hmm.. akn di kaji..hehe
-btw pe tuu fiksyen pop? aku men raban je menulis xtau lak jenis2 penulisan ni..hehe..

Edy Fee said...

dtg mlawat lg

macam2 iklan